Saya ngga butuh teman curhat.

‘Menganalisa’ apa yang saya alami belakangan ini, saya cukup ngga nyaman dengan diri saya sendiri.

Beberapa tahun belakangan ini, selama bertahun-tahun lebih saya terbiasa hidup sendiri dan apa-apa sendiri, saya merasa lebih stress ketimbang sebelumnya.

Bukan, bukan karena saya kurang ibadah. Ngga.

Saya merasa hubungan saya dengan Tuhan baik-baik saja. Terlepas dari itu, bukan urusan publik juga mau standar ke-relijius-san saya semana. Wong mati dan ke surga juga masing-masing, kok.

Selama hidup sendiri di negara orang, untuk tetap membantu saya tidak merasa kesepian, saya lebih banyak surfing di internet. Twitter, salah satu sumber ‘berita’ dan hiburan saya. Apapun pasti ada di sana. Mau ngoceh apapun juga, meski ngga direspon, toh orang pasti baca, kan? Hehehehehe.

Selain dari itu? Hubungan dengan teman-teman terdekat yang bisa dihitung menggunakan jari juga membantu saya menyalurkan keluh-kesah, atau curhatan-curhatan yang saya rasa ngga mungkin saya ceritakan ke publik maupun ke keluarga saya.

Bersamaan dengan ini, saya sekalian mau mengucapkan terima kasih kepada Seniz, Ajeng, dan Zula, yang senantiasa menemani dari sejak saya lepas landar dari bandara Soekarno-Hatta hingga hari ini. Dari zaman saya di asrama dengan internet terbatas dan rela berkomunikasi melalui e-mail saja, sampai sudah era Line dan Whatsapp.

Ketiga orang ini, ketiga perempuan hebat ini, sudah mau meluangkan waktunya mendengarkan, memberikan semangat, dan memberikan nasihat semampunya meski tahu saya merupakan sosok yang keras kepala. Kalian, sahabat sosmed terbaik saya.

Kemudian ingin berterima kasih juga dengan mas Syahroni, sosok pria yang tenang dan kalem, yang bertemu sejak awal penerimaan beasiswa saat kita sama-sama memulai S1 di Jepang. Meski berbeda kampus, mas sudah bersedia ada di sisi saya terus, mau susah maupun duka, sosok yang setidaknya secara langsung bisa ngobrol dengan saya dan sudah menjadi pendengar yang baik hingga hari ini. Sudah rela jauh-jauh menjenguk saya saat saya diopname, memberikan pengalaman naik gunung Fuji, hingga saat saya pindahan terakhir. Terima kasih sudah sabar selama ini. (dan membuktikan bahwa ‘platonic friendship’ itu nyata. Laki-laki dan perempuan bisa bersahabat begitu dekat, tidak baper, dan bisa menjaga satu sama lain tanpa ada kasus pelecehan. Sama sekali tidak.).

Saya beruntung, saya dikelilingi sosok yang banyak menyayangi saya dan selalu ada untuk saya. Mereka semua selalu ada saat saya menjajaki fase-fase menjadi dewasa, belajar tentang hidup dan bertahan selama di negara asing ini.

Mereka tahu sedepresi apa saya, sesakit apa saya, kapan saya bahagia dan kapan saya membagikan kabar baik. Saya berjanji kepada diri saya sendiri, ke-empat sosok inilah yang akan pertama saya bantu, apabila mereka mengalami kesulitan.

Ketika saya mengalami mental breakdown yang mengarah ke keinginan ingin mengakhiri hidup beberapa hari lalu, begitu banyak yang mengirimkan rasa simpati dan ingin menjadi teman bicara.

Saya sangat, sangat apresiasi rekan-rekan untuk menjadi teman saya selama saya di sini. Saya sangat berterima kasih ternyata begitu banyak yang peduli kepada saya setelah saya attention-whoring di sosial media. Terutama kepada bapak Jonathan End yang panik dan tak henti-hentinya langsung telepon :))))))) (astaga kalo dekat ta’ uwel-uwel kau ya). Terima kasih juga untuk kak Chika, koh Lexy, kak Lian, Masumen, dan Halief, juga semuanya yang sudah khawatir kepada saya. Saya minta maaf sudah banyak merepotkan.

Berita-berita di sosial media juga sudah banyak yang menggalakan mengenai mental helath issue dan bagaimana cara menanggulanginya. Salah satunya adalah: ngobrol, bicarakan, jangan dipendam biar ngga stress dan jadi depresi.

Sejak kejadian tersebut, saya paham bahwa saya ngga bisa cerita ke orang-orang lain.

Katakanlah Seniz, Zula, dan Ajeng, sebagai ‘rekan curhat’ tetap saya dalam hitungan tahunan pun tidak bisa saya ceritakan apa yang saya alami. Yang notabene, benar-benar sudah tahu luar-dalam saya dan saya tidak malu-malu lagi untuk cerita apapun karena saya sudah percaya sepenuhnya kepada mereka. Toh, kalau saya cerita ke orang lain yang baru saja menawarkan ‘jasa dengar’-nya saat saya bermasalah, nanti capek lagi cerita dari 0 lagi. Mereka juga tidak kenal saya, dan tidak benar-benar paham apa yang ada dalam hidup saya.

Yang saya butuhkan, bukan teman curhat.

Saya benar-benar membutuhkan konseling. Saat pertama kalinya saya ke psikolog di sini beberapa tahun lalu dan didiagnosa anxiety disorder dan depresi (dan ga lanjut karena ga ada waktu saking gilanya kerja di sini), saya tahu saya ngga bisa berhenti sampai saya benar-benar sembuh. Seniz, Zula, dan Ajeng bukan psikolog. Mereka pun pasti sama punya masalah yang sama. Dan solusi juga saran mereka tidak lebih dari sekedar nasihat kepada teman. Dan saya ngga bisa terus-terusan curhat hal yang sama kepada mereka. Tau diri lah~

Maka dari itu, ketika di sosial media semua orang gencar mempromosikan “Platform ini, platform itu, jasa psikolog/psikiater gratis.” dan segala tetek-bengeknya, saya pun akhirnya bergerak ingin mencoba.

Sebelumnya saya sudah coba telljp atau 7cups of tea, tetapi kembali lagi, bantuan mereka hanya sementara (sebagai pendengar sebelum saya meledak-ledak) dan menggunakan bahasa Jepang/Inggris saat curhat rasanya tidak terpuaskan. Termasuk saat konseling.

Saya pun semangat karena akhirnya saya bisa konseling meski jauh, menggunakan bahasa Ibu. Itu yang saya butuhkan.

Tapi yang saya dapatkan, hanya kekecewaan besar.

  1. saveyourselves.id

Layanan segera curhat di chat-nya LAMA. Masih lebih cepat 7cups. Kondisi saya sudah sangat down, dan saya butuh penanganan segera. Sampai saya akhirnya daftar yang premium konseling. Tapi responnya?

Ngga ada kabar apakah transaksi sudah berhasil atau belum, kepada psikolog siapa saya akan dihubungkan, pokoknya ngga ada kabar sama sekali apakah saya bisa sesegera mungkin ditangani. Baru setelah saya ‘ngamuk’ di intsagram dan di twitter, berbondong-bodong semua minta maaf dan baru saya dikenalkan ke psikolognya. Itupun setelah 3-4 hari kemudian.

Kecewa? Sangat. Dan co-foundernya yang menjanjikan akan kirim jurnal untuk saya melalui Jonathan End, sampai hari ini (sejak kejadian akhir Februari 2019), jurnalnya belum dikirimkan ke rumah Jonathan. Saya sempat chat nanya, dan dia bilang “Sorry, miss banget. Besok saya kirim ya. Saya janji.”

No news.

Luar biasa janji-janjinya.

  1. ibunda.id

Saat saya ngerant di sosial media dan marah-marah, ibunda.id langsung responsif dan mengirim DM menjanjikan memberikan saya 2 slot konsultasi gratis via telepon kepada psikolognya. Saya bilang nanti saya kabari kalau saya butuhkan atau saya akan kenalkan ke keluarga/adik saya.

Dan saat saya sempat butuh dan menanyakan lagi di DM, malah tidak segera tersedia dan ngga ada lanjutan apa-apa. Kecewa? Oh banget.

  1. Halodoc

Harapan terakhir saya adalah Halodoc, karena banyak sekali followers saya yang menyarankan menggunakan Halodoc karena dokternya cepat tanggap dan responsif. Apalagi ada aplikasinya, dan banyak psikiater/psikolog gratis.

Dan ternyata, sama saja.

Oke saya masih bisa maklum kalau psikolognya sibuk dan mereka juga sudah beri jadwal. Karena saya butuh konseling segera dan menunggu psikolog yang sudah pengalaman belasan tahun nampaknya penuh terus, akhirnya saya coba yang psikolog baru pengalaman 1 tahun.

I mean, she still a psychologist, right? She is a professional, right?

And here is what I got after I wasted my 40 minutes with her:

(iya itu yang item-item curhatan saya yang panjang lebar kali dua, tapi responnya begitu doang as you can see. Ga solutif. )

Akhirnya ya saya ngga mau percaya lagi sama platform-platform begini.

Iya saya jauh, iya saya ngga ada di Indonesia. Tapi ternyata, segitu doang usaha-nya yang katanya ‘mendukung para sahabat yang memiliki isu kesehatan mental’ dan ‘akan selalu kami bantu dan janji agar lebih baik lagi dalam kesehatan’.

Halah sampah.

Gembar-gembor ini juga kebanyakan terjadi ketika sudah ada kejadian beberapa orang memutuskan mengakhiri hidup atau jadi gila.

Lha ya saya yang sudah bertahan biar tetap waras gini mau ditunggu sampai gila juga? Apa nunggu saya lompat dari mansion dulu nih?

Jadi untuk para sahabat di luar sana,

Terima kasih sekali lagi, sudah memberikan saya dukungan penuh. Tetapi tolong, jangan tawarkan harus cerita atau curhat. Lebih baik segera beri saya kontak psikolog yang bisa segera dijangkau meski LDR. Kalau butuh dibayar, ngga apa-apa. I can afford it, tetapi ya harus serius. Karena saya butuh pertolongan. Bukan hanya ‘pendengar’. Dan saya butuh yang bahasa Ibu, karena saya lebih merasa tenang dengan psikolog dari negara yang sama, yang mau mendengar, dan mendiagnosa saya dari awal, hingga saya mendapat jalan keluar. Karena luka yang saya alami, sudah terjadi sejak saya kecil hingga sekarang, dan saya mau sembuhkan itu semua.

Apabila kamu juga menemukan teman-temanmu yang sedang butuh ‘pertolongan’ untuk kesehatan jiwanya, selain bersedia jadi pendengar mereka, tarik langsung ke psikolog terdekat. Berikan mereka pertolongan sesungguhnya.

Saya ngga tahu sampai kapan saya bisa bertahan, karena saya sudah berusaha semampu saya untuk kuat hingga hari ini.

Tolong jangan bandingkan masalah saya dengan masalahmu. Kita masing-masing berbeda. Rasa sakitmu belum tentu sama. Kamu merasa kamu sendirian dan sebatang kara, rasa sendirian meski masih ada orang tua namun hidup tanpa mereka juga sakit.

Jangan katakan bahwa saya kurang bersyukur.

Saya sudah katakan, hubungan saya dan Tuhan tidak ada masalah. Saya hanya bermasalah dengan manusia-Nya.

Sekali lagi, saya minta maaf saya sudah attention whore-ing kepada semua pihak.

Saya hanya mau bilang saya capek. Saya ngga mau dilihat kuat terus. Saya ngga mau munafik.

Dah itu aja.

Have a nice day.

SMA di Jepang. Seperti apa sih suasananya?

 

IMG_3631
Seragam sekolah SMA sailor gue, dipake jadi properti buat suting di kampus dulu haha. Ini baju khusus musim panas. Sekitar thn 2012.

Beberapa pembaca mungkin sudah tahu/pernah dengar kalau gue dulu SMA-nya di Jepang. Hanya ingin klarifikasi lagi, benar kok SMA-nya di Jepang, tapi sebelumnya gue sudah lulus SMA reguler (selama 3 tahun) di sebuah SMA Negeri di Jakarta. Dan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, foreigner diwajibkan ikut sekolah bahasa Jepangnya dulu biar lebih lancar. Sekolah bahasanya bervariasi. Ada yang memang khusus sekolah bahasa saja (nihongo gakko/日本語学校) atau daftar di sebuah sekolah biasa yang menyediakan course khusus untuk foreigner. I was in the second school.

Untuk jangka waktunya juga bermacam-macam. Bisa paling cepat 6 bulan, atau paling lama 1,5 tahun atau bahkan lebih, tergantung seberapa lancarnya kita saat belajar bahasa Jepang. Kalau tempat les bahasa Jepang, kegiatannya hampir kayak
-anak kampus. Bisa arubaito (atau part-time), dan belajarnya tok bahasa aja. Sedangkan kalau di sekolah, bisa ikut kegiatan ekskul, atau ngecengin senpai-senpai cakep bahahahaha.

Warning: Tulisan dan potonya banyak!

Waw! Tell me more, Senpai!

【Tips】Etika Datang ke Kawinan di Jepang

IMG_2870 copy.jpgAh.. 2018.

Semakin bertambahnya tahun, makin nambah juga… umur. Maunya sih forever 21, tapi apadaya semakin hari semakin… mateng (jerawat kalee).

Tapi beneran. Biasanya orang Indonesia itu rata-rata usia menikah berkisar 23-25an yak kalo perempuan. Nah, sejak tahun 2016, udah mulai bermunculan dah tuh berita-berita si Anu mau nikah, si Ini udah lamaran… Yang berujung menimbulkan pertanyaan: “Lu kapan, Cil?”

Aih pusing pala Inem.

Bukannya ngga mau… cuma masalahnya belon siap secara lahir-batin nih. Karena kan yang namanya kawinan itu, ngga kayak pacaran yang ga cuco langsung bhay. Bahkan ngga membutuhkan dana yang sedikit. Apalagi, gue sendiri masih baru banget menjajaki dunia karir di Jepang dan masih banyak yang belum tersampaikan cita-citanya. Berbeda dengan Indonesia, orang Jepang (seperti yang sudah diketahui khalayak di seluruh dunia) adalah orang-orang yang paling susah mau nikah dan punya keturunan. Pemerintah Jepang sendiri sebenarnya sudah memberikan banyak upaya biar rakyatnya mau memberikan generasi baru biar populasi makin banyak, tapi makin kesini, penduduknya semakin berkurang.  Usaha pemerintah agar rakyatnya mau punya anak adalah salah satu-nya, biaya hamil, persalinan, dan pendidikan untuk anak sangat dimudahkan, bahkan gratis. Jadi kan lumayan tuh, kebutuhan anak ditanggung oleh pemerintah?

Belum lagi, acara-acara ‘cari jodoh’ di tipi juga gencar, tapi nampaknya itu belum cukup.

Di kalangan anak muda (dan orang-orang biasa pada umumnya), ada juga cara comblang-comblangan yang disebut dengan gokoni (合コン)atau omiai (お見合い).

Perbedaan omiai dan gokon:

  1. Omiai dilakukan dengan cara ‘kopdar’ dan pesertanya itu satu lawan satu. Biasanya diperkenalkan dari keluarga/saudara-saudara terdekat. Kayak dijodohin lah gitu.
  2. Gokon itu sama seperti nomikai (drinking party), tetapi terdiri dari 3 orang atau lebih pasangan (misal 3 cewek dan 3 cowok), jadi kopar rame-rame (ada kenalan, atau temennya temen) tapi bertujuan buat cari jodoh. Banyak di kalangan anak-anak mahasiswa atau yang sudah bekerja.

Jadi setelah pertemuan (makan malem biasanya), kalau sampe tahap tukeran ID line atau wasap, nah sisanya silahkan gempur sendiri!

Gue pernah lho iseng nyobain gokon. Cowoknya gue kenal, makannya gue suruh dia cari dua temen cowok lainnya dan gue cariin dua temen cewek gue (emang dari dulu anaknya suka nyomblangin orang). Akhirnya 3 lawan 3, dan berakhir… ga ada yang jadian :))))) Yaaa ngapain wong kaga ada minat samsek. Kalau cocok, bahkan bisa sampai ke pelaminan! Living proof-nya adalah: host mother dan host father gue yang di Osaka :)))  Anaknya sendiri yang ngasih tau kalo mama-papa-nya ketemu di acara comblang-comblangan itu. Baiklaaaaaah..

Terima kasih atas koreksinya! (referensi: beberapa teman orang Jepang dan Maspey)

Nah kembali lagi ke topik. Pernikahan di Jepang sendiri itu, ribet banget. Karena baik si mempelai maupun tamu, harus mau direpotin sama beberapa prosedur yang ada. Mungkin ini juga salah satu alesannya mereka males ngeresmiin hubungan hehehe.

warning: postnya agak panjang!

Wah, prosedurnya seribet bikin e-KTP ngga, ya?