Online Drinking Party (Tele-Nomikai), ari or nashi?

During the COVID19 outbreak, all of us has been ‘forced’ to keep stay at home and minimize our activity outside like the other day before.

Temporarily closed schools and stores, even some offices, restaurants…

Because the outbreak ranges getting wide once we have interaction with the infected person. And *clicks fingers* it happens really fast.

So you know, the daily “I just want to stay at home and hate to leave the bed.” is being a mandatory and it’s one of the way to save your life. No kidding.

boredathome.gif
….Bored at home, Imma bored at home, Imma bored at home, Imma bored……. (Giphy)

It feels unbelievably like a pre-apocalypse with an ‘unseen’ disease, but at the other hand, there’s not much changes going on—well we still have to keep the economy running and balanced the society life.

But there are still lots of interesting things going on, especially, people on the Internet (talking about PRESENT DAYS!), are getting more and more creative.

TheInternet.gif
“THE INTERNET!!!!” -IT Crowd (Giphy), recommended UK series!

We are talking about social distancing but, keep the distance!

Everything goes okay with online💻

One Step at a Time

Hi.

My name is Puriichan and last year, I’m diagnosed with BPD (Borderline Personality Disorder) and PMDD (Pre-Menstrual Dysphoric Disorder).

境界性人格障害月経前不快気分障害⇦病状の日本語説明)

TRIGGER WARNING:

The following blog post may contain elements that are not suitable for some readers. Accordingly, reader discretion is advised. You can simply close the blog and discontinue reading if you feel uncomfortable. 

You’ve been warned! Click here to continue read this super-long blog post.

【Tips】Etika Datang ke Kawinan di Jepang

IMG_2870 copy.jpgAh.. 2018.

Semakin bertambahnya tahun, makin nambah juga… umur. Maunya sih forever 21, tapi apadaya semakin hari semakin… mateng (jerawat kalee).

Tapi beneran. Biasanya orang Indonesia itu rata-rata usia menikah berkisar 23-25an yak kalo perempuan. Nah, sejak tahun 2016, udah mulai bermunculan dah tuh berita-berita si Anu mau nikah, si Ini udah lamaran… Yang berujung menimbulkan pertanyaan: “Lu kapan, Cil?”

Aih pusing pala Inem.

Bukannya ngga mau… cuma masalahnya belon siap secara lahir-batin nih. Karena kan yang namanya kawinan itu, ngga kayak pacaran yang ga cuco langsung bhay. Bahkan ngga membutuhkan dana yang sedikit. Apalagi, gue sendiri masih baru banget menjajaki dunia karir di Jepang dan masih banyak yang belum tersampaikan cita-citanya. Berbeda dengan Indonesia, orang Jepang (seperti yang sudah diketahui khalayak di seluruh dunia) adalah orang-orang yang paling susah mau nikah dan punya keturunan. Pemerintah Jepang sendiri sebenarnya sudah memberikan banyak upaya biar rakyatnya mau memberikan generasi baru biar populasi makin banyak, tapi makin kesini, penduduknya semakin berkurang.  Usaha pemerintah agar rakyatnya mau punya anak adalah salah satu-nya, biaya hamil, persalinan, dan pendidikan untuk anak sangat dimudahkan, bahkan gratis. Jadi kan lumayan tuh, kebutuhan anak ditanggung oleh pemerintah?

Belum lagi, acara-acara ‘cari jodoh’ di tipi juga gencar, tapi nampaknya itu belum cukup.

Di kalangan anak muda (dan orang-orang biasa pada umumnya), ada juga cara comblang-comblangan yang disebut dengan gokoni (合コン)atau omiai (お見合い).

Perbedaan omiai dan gokon:

  1. Omiai dilakukan dengan cara ‘kopdar’ dan pesertanya itu satu lawan satu. Biasanya diperkenalkan dari keluarga/saudara-saudara terdekat. Kayak dijodohin lah gitu.
  2. Gokon itu sama seperti nomikai (drinking party), tetapi terdiri dari 3 orang atau lebih pasangan (misal 3 cewek dan 3 cowok), jadi kopar rame-rame (ada kenalan, atau temennya temen) tapi bertujuan buat cari jodoh. Banyak di kalangan anak-anak mahasiswa atau yang sudah bekerja.

Jadi setelah pertemuan (makan malem biasanya), kalau sampe tahap tukeran ID line atau wasap, nah sisanya silahkan gempur sendiri!

Gue pernah lho iseng nyobain gokon. Cowoknya gue kenal, makannya gue suruh dia cari dua temen cowok lainnya dan gue cariin dua temen cewek gue (emang dari dulu anaknya suka nyomblangin orang). Akhirnya 3 lawan 3, dan berakhir… ga ada yang jadian :))))) Yaaa ngapain wong kaga ada minat samsek. Kalau cocok, bahkan bisa sampai ke pelaminan! Living proof-nya adalah: host mother dan host father gue yang di Osaka :)))  Anaknya sendiri yang ngasih tau kalo mama-papa-nya ketemu di acara comblang-comblangan itu. Baiklaaaaaah..

Terima kasih atas koreksinya! (referensi: beberapa teman orang Jepang dan Maspey)

Nah kembali lagi ke topik. Pernikahan di Jepang sendiri itu, ribet banget. Karena baik si mempelai maupun tamu, harus mau direpotin sama beberapa prosedur yang ada. Mungkin ini juga salah satu alesannya mereka males ngeresmiin hubungan hehehe.

warning: postnya agak panjang!

Wah, prosedurnya seribet bikin e-KTP ngga, ya?