
Beberapa pembaca mungkin sudah tahu/pernah dengar kalau gue dulu SMA-nya di Jepang. Hanya ingin klarifikasi lagi, benar kok SMA-nya di Jepang, tapi sebelumnya gue sudah lulus SMA reguler (selama 3 tahun) di sebuah SMA Negeri di Jakarta. Dan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, foreigner diwajibkan ikut sekolah bahasa Jepangnya dulu biar lebih lancar. Sekolah bahasanya bervariasi. Ada yang memang khusus sekolah bahasa saja (nihongo gakko/日本語学校) atau daftar di sebuah sekolah biasa yang menyediakan course khusus untuk foreigner. I was in the second school.
Untuk jangka waktunya juga bermacam-macam. Bisa paling cepat 6 bulan, atau paling lama 1,5 tahun atau bahkan lebih, tergantung seberapa lancarnya kita saat belajar bahasa Jepang. Kalau tempat les bahasa Jepang, kegiatannya hampir kayak
-anak kampus. Bisa arubaito (atau part-time), dan belajarnya tok bahasa aja. Sedangkan kalau di sekolah, bisa ikut kegiatan ekskul, atau ngecengin senpai-senpai cakep bahahahaha.
Warning: Tulisan dan potonya banyak!
Langsung aja, Gan!
Suasana Sekolah

Pembaca yang budiman pasti pernah dong yaa nonton Doraemon dan lihat suasana kelasnya Nobita seperti apa? Yak sama persis! Kursi-kursi kecil dari kayu, meja yang

cuma buat satu orang doang (duduknya sendiri2 hmmmm), lantai dari kayu, dan papan tulisnya masih pake kapur. Ohya, kenapa masih pake kapur? Alasannya, kalau pakai spidol, bau spidol itu ngga baik buat kesehatan karena bahan kimia. Jadi lah mereka menggunakan old-styled way yaitu pake kapur. Jadi kalo ada yang ga merhatiin, masih berlaku hukum nyambit siswa pake kapur hihihi.
Ohya, sama seperti nihongo gakko, pastinya siswa-siswanya semua itu orang asing. Satu kelas gue mayoritas orang-orang China

(dari berbagai asal pula), ada Thailand, Vietnam, dan Korea (sempet sekelas sama rang Brazil juga. Dan dia Brazil paling ganjen yang pernah gue temuin. Cowok pula). Tapi kelas-kelas lainnya, isinya full orang Jepang semua! Jadi masih suka papasan juga sama siswa-siswa Jepang, meski ngga ada yang berani ngajak ngobrol duluan wkwkwk. Oh ya, foto yang kalian lihat di atas itu baju khusus musim panas. Kalau baju musim dingin itu beda lagi, lebih tebal dan berwarna gelap. Kalau cowoknya, tetep pake jas itu dan dalemnya kemeja.


Sekolah gue juga cukup ketat. Anak laki-laki, ngga boleh panjang (kalo bisa kekuncir, kudu dipangkas), ngga boleh ada jambang, ngga boleh bewosan, gaboleh kumisan. Biasanya kalo ketangkep sidak, bisa dicukur hari itu juga sama guru wkwkwk. Untuk anak perempuan, wajib rambut dikuncir, yang poni harus dikasih pin, dan ngga boleh pake make up! Harus poloooos. Pake asesoris, piercing, ngga boleh sama sekali. Bener-bener harus polos ngga boleh kenal dandanan hahaha. Kemudian pantofelnya juga khusus, pantofel dari sekolahan. Rok juga ngga boleh pendek. Dan harus pakai nametag! Kalo ngga, ntar guru-nya suka pura-pura ga tau nama wkwkwk. Oh satu lagi peraturan yang harus ditaati setiap siswa: Ngga boleh pacaran antar siswa! (berlaku juga untuk guru, seinget gue sih).
Fun fact: siswa di Jepang diwajibkan punya dua sepatu: sepatu pantofel/sekolah biasa, dan sepatu kets khusus untuk di dalam sekolah. Di gerbang luar, biasa disediakan loker sesuai dengan nama dan kelas.

Oh ya, SMA gue itu terletak di Perfektur Kochi dan berada di dalem gunung. Gue ngga bohong. Bener-bener ada di dalem gunung….. (sok silahkan cek di gugel map nih). Gue sama sekali ngga ada perasaan bakalan kemari hahaha. Tapi ya itung-itung pengalaman baru, kan. Jadinya iya iya aja pas disuru bapake buat sekolah lagi di Jepen. Ehyhaaa lokasinya terpencil amat.
Dan karena itulah, gue pun masuk asrama deeeeh. Yang masuk asrama disini ngga hanya foreigner dari seluruh dunia (dari orang Asia, Amerika Selatan, Amerika Utara, sampe Afrika aja adaaaa ajigileeee), tapi orang Jepang biasanya juga banyak yang stay di asrama. Di luar itu, ada bus sekolah yang suka antar-jemput.

Saking di dalem gunungnya, satu-satunya transportasi itu adalah taxi. Dan itu juga ngga bisa sembarangan kita panggil, karena selain jauh banget, penjagaan kampusnya ketat. Kemudian, bajunya juga (sampe baju keseharian, sampe kaos kakinyaaaa) itu harus pake baju khusus dari sekolahan. Beneran kayak penjara yee hihi. Sekolah Jepang mulai dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Jadi kadang ngga usah watir kalau mau bangun rada santai dikit wahahaha. Kemudian dimulai dengan memberi salam kepada guru.

Setiap hari, akan ada giliran satu anak jadi ketua kelas, terus disuruh mencatat agenda pada hari itu, termasuk kalau ada yang sakit. Yaa namanya ketua kelas, pasti tanggung jawabnya juga gede dan harus mau kalo disuruh-suruh sama wali kelasnya :)))

Sebelum jam pertama, wali kelas akan masuk dan memberikan briefing kepada seisi kelas tentang ‘pelajaran’ hari ini, baru habis itu mulai belajar. Sama seperti sekolah di Indonesia, satu jam-nya kurang lebih 45 menit dan diisi istirahat 10 menit. Dari jam 12 siang sampai jam 1 siang, semuanya makan siang bersama di aula makan (ngantrinyaaa panjang banget kayak nagabonar). Ngga jauh dari aula makan, disitu ada ruangan kecil yang isinya vending machine yaaa sejenis kios/warung kecil kalau mau cemal-cemil (tempat favorit kedua setelah gym). Meski dari berbagai negara, semuanya antri dengan tertib lho. Ngga desek-desekan, ngga toyor-toyoran, karena semuanya tahu bakal kebagian hehehe. Dan sudah pasti juga, orang-orang Jepang dan siswa asing makan bersama dengan tertib. Setelah selesai, semua anak kembali ke kelas untuk melanjutkan sisa pelajaran sampai pulang.
Fun fact: untuk yang beragama Muslim, ngga usah khawatir. Kantin sekolah bisa menyediakan makanan yang tidak mengandung babi.
Nah sebelum pulang, kita ngga boleh langsung pulang loh, Gaesss. Karena apaaa?

Bukan, bukan disuruh jadi satpam, tapi kita harus BEBERSIH. Yep, lantai kelas harus di pel, harus bersihin kamar mandi juga, lap-lap jendela, papan tulis, dll.

Karena sekolah/tempat kerja di Jepang tidak menggunakan jasa cleaning service, semuanya harus serba self-service. Dan kebiasaan ini sudah diterapkan lama sejak anak-anak mulai masuk TK. Tentu saja, ngga harus satu kelas kerja bakti terus-terusan, tapi suka dibagi-bagi grup-nya setiap hari. Jadi berasa banget kalau ada yang make peralatan di sekolahan, ngga dirapihin lagi, pasti suka kesel. Karena tahu kita capek yang rapihin, ngelapin, terus dipakai sembarangan, pengen dipentung pake ember ya.
Fun fact: Setiap akhir tahun, sekolah melaksanakan bersih-bersih secara besar-besaran atau Oosoji(大掃除)yang dilakukan bersama-sama bersama para guru (karena mereka juga bersih-bersih kantornya). Kegiatan Oosoji ini akan terus ada sampai kita bekerja nanti.
Mungkin untuk anak-anak asing, hal ini bisa bikin kaget banget. Meskipun gue ngga pernah dimanjain sama ortu, gue sendiri masih males beresin tempat tidur. Lah gimana ini disuruh bersihin kelas? Tapi karena wali kelasnya diem di pojok sambil melototin demi sebuah pengalaman dan hal baru, kita semua tetap dengan senang hati ngelap-ngelap hihi. Setelah beres semuanya, kita pun kembali ke asrama masing-masing untuk beristirahat, atau ikut kegiatan ekstrakurikuler. Saat itu gue memilih untuk gabung dengan klub Aikido SMA.
Note: Karena program kita hanya 1 sampai 1,5 tahun, kadang siswa asing tidak terlalu diperbolehkan ikut ekskul karena dikhawatirkan belajar bahasanya terbengkalai. Padahal mah melalui kegiatan tersebut, bisa jadi bahan pelajaran buat bicara juga, ya?
Suasana Asrama

Sekolah gue punya lebih dari 2000 siswa, dan 70%-nya itu laki-laki. Jadi asrama perempuan itu cuma ada satu, dan letaknya di atas bukit :)))) Jadi setiap hari, kita ciwik-ciwik harus rela naik-turun bukit buat sampe ke sekolahan. Beda dengan asrama cowok yang jaraknya relatif dekat dari sekolah dan ngga perlu pakai perjuangan. Tapi yaitu, kalau bolos pasti bakal gampang ketahuan :))) Oh ya, meski asrama kita menyediakan wi-fi, tetep dibatasin cuma bisa dipakai dari jam 6 pagi sampai jam 10 malam saja haha. Terus kita ngga boleh punya henpun. Kalo ada, ya disita, dibalikin pas lulus ntar. Kita boleh pake iPod, tapi ngga boleh dibawa ke sekolah. Ya minimal jangan ketauan deh. Karena banyak banget yang ketauan dan disimpen sampe lulus baru dibalikin wkwkwk (termasuk gue sih kena HAHAHAHAAHAHA HUHUHUHU….).
Setiap hari, setiap pagi jam 6, kita dibangunkan dengan bel dan ngantuk-ga-ngantuk, harus bangun dan diabsen di depan kamar. Satu kamar itu 4 anak dan satu orang adalah ‘kepala kamar’-nya.

Biasanya leader-nya itu anak Jepang. Kemudian setelah absen, cuci muka, sikat gigi, (NGGA MANDI, COY!) kita berbondong-bondong turun bukit menuju kantin lagi untuk makan siang.

Berbeda dengan makan siang dan makan malam, untuk sarapan duduknya harus per-asrama (total kita ada 7 asrama perempuan dari 3 gedung). Kita harus mengikuti chorei(朝礼)yaitu seperti ‘upacara’ setiap paginya yang diisi dengan hal mengucapkan terima kasih kepada Tuhan, dan mengucapkan selamat pagi untuk orang tua kita di negara masing-masing.
Fun fact: per-asrama pun kadang dapat giliran menyiapkan sarapan pagi! Iya! Lagi-lagi disini kita harus belajar ‘self-service’. Jadi biasanya bangun lebih pagi, turun ke bawah bukit, ke kantin dan ikut petugas kantin menyiapkan piring, sumpit, dll.

Chorei sendiri dibagi dua kegiatan: kadang ada yang dilakukan di lapangan besar karena kita sambil senam pagi dan mendengar ‘wejangan’ dari Kepala Sekolah baru sarapan, atau chorei biasa menjelang sarapan. Baru deh setelah sarapan, kita bersiap-siap ke sekolah. Untuk Sabtu-Minggu, kegiatan chorei ngga ada dan kita bisa bebas mau bangun siang meskipun tetap ada bel pagi hihi. Kemudian, setiap asrama ada kepala asramanya, dan izin untuk ngapain aja harus sepengetahuan beliau. Dulu ada satu kepala asrama gue kakek-kakek gualag banget, tapi cepet baiknya lagi. Mungkin karena ga tahan kali ye cewek-cewek di asrama gue cakep-cakep semua HAHAHAHA.

Biasanya ada dua orang yang jagain. Kalau mau manggil anak-anak (misal dapet telepon dari orang tua), dipanggilnya via microphone. Jadi seluruh gedung asrama cewek denger wkwkwk. Oh ya, dan asrama punya jam malam. Biasanya sampai jam 8, gerbang sudah ditutup, tapi masih suka dibukain untuk anak-anak yang ikut ekskul olahraga, misal karena ada tanding, pulangnya agak malam. Mereka juga pulangnya bareng sama guru mereka, karena semua gerak-gerik kita selalu diawasi hehehe. Ohya, asrama kita lengkap. Disediakan laundry room juga (dengan resiko bakal ketuker-tuker/dipindahin orang/dimasukkin ke keranjang yg salah kalau ngga cepet-cepet diambil), terus ada vending machine juga di dekat gerbang.

Kalo laper mo nyemil, ya beli disitu. Ohya kalau mandi, kita mandinya… raramean. Gue tau, ini bisa bikin orang asing shock banget karena kita ngga ada kamar mandi berbilik (maap yaa ga ada fotonya wkwk). Jadi pas masuk ke ofuro (sebutan untuk tempat mandi, yang pakai bak gede gitu), nanti ada laci-laci buat naro baju kita, dan kita ganti baju disitu. Harus telanzang bulat-lat-lat. Yes yes, say hi to each other, naked! Tentu saja, cowok-cowok juga sama :))
Kita harus showeran dulu (disediakan kursi dan banyak shower kecil-kecil) baru setelah itu berendem deh rame-rame. Bisa dibayangkan? Sudah?

Dan lagi-lagi, setelah jam mandi selesai (iya booo diwaktuin), mulai ke jam yang semua orang ingin sekali nyuruh orang lain: jam bersih-bersih asrama! Dan setiap kamar dapat giliran membersihkan ofuro, toilet, sink, ngepel lantai, buang sampah, ngelap-ngelap lagi. Kemudian ngga lupa, harus beberes kamar juga, karena kalau

ada sidak, biasanya si kakek asrama yang galag itu suka ngecek, dan ngacak-ngacak kamar kita kalau ketauan ngga bersih. Terus diumumin pas yuurei (seperti chorei, tetapi ini malam hari di setiap asrama) nama dan kamarnya. Rese ye wkwk (korban juga).

Lalu setelah beres-beres asrama, bel kembali berbunyi dan memasuki study time yang biasanya kita pake buat… internetan :p Hidup berat tanpa internet, bosquuuuu. Ruang belajar berada tepat di depan kamar kita. Dan biasanya juga, staff asrama (entah si kepala asrama atau ada staff lainnya, ATAU BAHKAN GURU KITA) suka datang berkunjung buat ngeliat. Bukan berarti disaat study time ini bisa bebas, lho. Kalau iya ada yang nekat main game disaat belajar dan ketauan, ya uwis sayonara deh itu.


Penghuni asrama diubah setiap 6 bulan sekali. Jadi kita ngga bisa selamanya bareng-bareng sama penghuni asrama yang ada. Nanti kita akan bertemu orang baru, berkenalan, dan harus mau bobo bareng hihihi. Tentunya disini kita belajar saling menghargai, toleransi, dan saling membantu kalau ada kesulitan. Oh ya, dan kita ngga boleh tidur di kamar orang lain, jadi tetap harus stay di kamar sendiri ya. Setelah selesai belajar pukul 8, diberikan waktu sisa 1 jam terakhir untuk siap-siap bobo.

Kita tidur hanya beralaskan futon, kemudian AC yang juga dibatasi sampe jam 12 malam saja. Jadi kalo musim dingin, pemanasnya dinyalain sejak jam belajar biar angetnya ngumpul, terus baru bobo. Pagi-paginya menggigil semua kedinginan hauhaeuahue. Ohya kalau ada yang sakit gimana? Tugasnya ketua kamar yang laporan ke kepala asramanya. Nanti kepala asrama akan bertindak seperti nganter ke UKS sekolah. Kalau berlanjut, akan di antar ke rumah sakit/klinik terdekat. Kita selama sekolah pun dilengkapi asuransi kesehatan, jadi ngga perlu khawatir harus bayar mahal pengobatannya. Oke deeeh selesai kegiatan seharian, bobo deh kitaaa.
Ada kegiatan apa aja sih di Sekolah?
Ekstrakurikuler

SMA gue terkenal dengan klub baseball-nya, dan tergolong kuat untuk klub olahraga lainnya. Kita juga ada kebanggaan klub sumo, karena salah satu alumninya lulus dan menjadi pesumo pro di Jepang! Kemudian ada klub basket juga yang menjagokan seorang pemain dari Ethiopia yang tingginya sampe 2 meter (tapi pada dasarnya pemain basket SMA kita cakep-cakep tinggi-tinggi uwuwu semua), kemudian ada Judo, Kendo, Karate, Golf, Renang, Drama, Marching Band, Study Club, Lari, Manga Club, daaan banyak lainnya.

Kebanyakan siswa-siswi yang berpartisipasi di ekskul adalah anak-anak Jepang dan anak-anak foreigner yang mengikuti program SMA reguler selama 3 tahun. Kalau yang hanya 1 atau 1,5 tahun, tidak terlalu direkomendasikan karena kita harus fokus sama ujian untuk ke Universitas mendatang dan harus jago bahasa Jepangnya. Selama kita ngga absen sama PR dan berkelakuan baik, untuk yang program singkat macam gue ini boleh juga kok join ke klub-klub kesukaan kita hehehe.
Earthquake and disaster drill.
Berikut, bahasan terakhir gue mengenai kegiatan di luar belajar-mengajar di sekolah. Seperti yang diketahui, Jepang adalah negara yang paling mudah kena gempa dan tsunami.

Apalagi, posisi Kochi itu deket banget sama laut, jadi kita pun diberi drill untuk bencana alam. Ini juga masih berlaku sampai gue kuliah dan kerja, untuk antisipasi kedepannya.
Sport Festival in whole Japan
Lalu karena kita hidup di asrama dan cuma di sekolah aja, bukan berarti kita ngga have fun. Kadang, sekolah juga suka bikin acara-acara menarik dan serunya orang lain dari luar sekolah juga suka ikut berpartisipasi! Salah satunya, kayak acara festival olahraga atau taiikusai(体育祭). Disini biasanya semua anak ikut acara olahraga (tarik tambang, lari estafet, maraton, dan lain-lainnya), mirip sama suasana 17an. Bedanya, kita mainnya grup, jadi mewakilkan kelas-kelas kita. Ngga ketinggalan, wali kelas kita juga suka ikut memeriahkan suasana juga.

Kemudian ga hanya itu saja, kita pun mendirikan warung-warung tenda ala siswa-siswi, dan yang buat itu anak-anak dari klub olahraga. Para guru memberikan kita libur satu hari untuk membeli bahan, mempersiapkan perlengkapan jualan, juga mendirikan tenda-tenda untuk festival.

Ada yang jualan sate, ada yang khusus minuman-minuman soda, ada lagi yang jualan karaage, macem-macem deh! Ngga ketinggalan klub Aikido gue yang jualan sejenis burrito isi daging ayam dan sapi. Terus laku dong. Terus duitnya kita pake buat BBQ-an HAHAHAHA.


Suasananya cukup seru, karena pembelinya juga dari orang luar sekolah. Bahkan Kepala Sekolah dan wakilnya juga mau keliling, icip-icip dagangan anak-anak disini.

Mengadakan festival atau acara-acara seperti ini itu salah satu kesukaan orang Jepang. Bisa dilihat di kalender Jepang, hari perayaan atau festival itu baaanyak banget. Sebagai orang asing, gue juga seneng. Bisa hura-hura dan makan enak dengan harga murah hahaha.

Acara festival olahraga juga sudah dilaksanakan sejak anak-anak dari usia muda. Biasanya, para orangtua juga akan bela-belain ambil libur untuk melihat anak-anak mereka ber-kompetisi dengan teman-temannya di hari olahraga tersebut. Jadi kegiatan bersama-sama di luar juga penting lho, ngga harus diem terus belajar baca buku di dalem kelas. Tepar pasti.
Tentunya kalau memenangkan kompetisi, kita dikasih hadiah dari sekolah. Cuma sayang tim gue ngga menang jadi cuma dapet tepuk tangan doang huhuhu.
Ohya selain adanya festival olahraga, kita juga ada gerakan jalan kaki dari sekolah sampai ke pantai (namanya Katsura Hama). Gempor ga sih tuh jalan kaki naik turun gunung sepanjang… 10 kilo, terus balik lagi hahaha.


Oh mungkin ada yang mau tanya, karena kita di asrama dan di dalem gunung, untuk belanja sehari-hari gimana? Masa kita cuma makan dari vending machine aja? Ooo tentu tidak. Kita dikasih kesempatan belanja satu kali satu bulan, dan disitulah biasanya kita nyetok berbagai jenis cemilan untuk satu bulan :))) Belanjanya, jelas di dalem emol dong. Tapi tetap belanjanya dibatasi cuma sampai 2 jam saja. Kalau ngga, bisa-bisa ditinggal sama bisnya :))) Terus kalau belanja juga harus pakai seragam sekolah, untuk antisipasi biar ngga ilang/diculik. Kemudian belanja juga ada aturannya, kalau kita ngga boleh belanja barang-barang tajam, alkohol, rokok (terutama).

Karena pastinya, akan ada pengecekkan barang belanjaan. Untuk yang cowok-cowok biasanya bakal dicek sampai ke dalam sepatu. Wuuuuuh~
Summer activity
Jadi kesempatan belanja sebulan-sekali ini lah kita bisa menghirup udara bebas sekaligus bisa coba makanan di emol. Kasian amat ya kita anak gunung :)))

Kemudian kegiatan lainnya, pernah juga kita pergi canoe-ing dan all-you-can-eat bbq bersama-sama di musim panas. Jadi hidup di asrama juga ngga se-membosankan itu kok. Apalagi mumpung masih anak sekolahan, semua harganya juga murah-murah dan kadang ditanggung sama sekolah hihihi.
School Festival

Yang ini juga mirip-mirip sedikit sama Sports Festival, tapi bedanya ini hanya acara sekolah aja. Biasanya, diadakan di kampus sekolah yang bagusan dikit, yang deket laut (iya SMA gue ada dua gedung untuk course yang berbeda).
School festival ini punya tema ber-beda setiap tahunnya. Dan ga cuma di SMA, saat kuliah juga ada school festival lho. Dan siapa saja boleh banget dateng dan coba makanan-makanan tenda ala siswa-siswi juga!
Dan ngga hanya menyajikan hidangan-hidangan, festival sekolah lebih menunjukkan kreativitas siswa-siswi lebih dalam lagi. Seperti buat acara fashion

show, dance, bikin rumah hantu (asli gue rumah hantu tingkat sekolahan aja jerit-jerit…), second hand market, kemudian ada juga yang menampilkan band, sulap, dan lain sebagainya. Acara ini biasanya ada
sampai sore, dan pastinya ngga akan dibuat bosan deh. Disini juga penampilan siswa-siswi-nya, khusus panitia atau yang berkepentingan, bisa pakai baju yang aneh-aneh. Kalo yang cuma mampir numpang makan doang kayak gue sih.. ya teuteup. Soalnya gurunya juga tetap siaga dalam mengawasi kita semua. Hihihi.

Jadi siapa bilang kita harus terus-terusan stres di dalam gunung dan ngga boleh bersenang-senang? Tapi tetep sih, habis itu pulang ke asrama, melakukan kegiatan sama lagi kayak bersih-bersih, mandi, terus tidur, terus chorei, terus ah sudahlah….
Jadi, gimana? Apakah semua sudah bisa merasakan yg kurasakan bertahun-tahun dahulu saat jadi anak SMA kayak di komik-komik? Hihi.
Kalau di SMA sih, karena ngga begitu ‘gaul’ sama senpai-senpai Jepang dan banyaknya foreigner disana, gue juga ngga begitu ‘mengalami’ suasana taksir-menaksir terlalu banyak. Tetapi gue senang gue bisa mendapatkan kesempatan pakai baju sailor dan bisa menerima tantangan ngomong bahasa Jepang meski bener-bener perjuangan banget sampe bisa jadi sekarang. Inipun masih ngga sempurna sama sekali :))))
Dan mohon maap gue jarang banget foto sama temen-temen gue, karena gue lebih seneng moto-motoin mereka :))) maaf juga karena itu foto-foto juadul semuanya, belon ketemu lagi sama mereka karena udah pada mencar sejak kita semua lulus-lulusan.
Tell me, if you’re in this kind of school, what would you do?
Comments, critics, anything are welcome!
Didedikasikan untuk:
Semua teman-teman di MEITOKU Gijuku, Aikido Club, dan seluruh guru-guru yang selalu kusayang.

Malam Mbak, saya penasaran tentang sekolah bahasa jepang yang kerja sama dengan SMA. Apakah untuk calon murid ada batas umurnya buat tipe program seperti ini ? Karena kalau sekolah bahasa Jepang yang umum, dikelas sebelah pernah ada murid yang sudah sepuh.
halo. kalau untuk detail programnya, bisa silahkan tanyakan ke sekolah bahasa Jepangnya. Kalau untuk usia sendiri sih ngga ada batasan ya, setau saya. Karena Universitas di Jepang sendiri menerima mahasiswa berapapun usianya untuk belajar, selama mereka niat dan mau semangat belajarnya. Semoga membantu, ya!
Beneran kayak di komik2 ya.. Ntab kali.. Dan jadi tau knp Jepang emang pantas jd negara maju.. Hmmm..
bahahaha. hayooo kenapa Jepang pantas jadi negara maju?
Halo kak? Fasilitas ” nya pasti sangat memadai ya kak?
Btw, ,pas ndaftar umur berapa kak?
saya daftarnya pas menjelang lulus SMA. Kira-kira 17-18an kali yeee (pas pertengahan menjelang usia2 itu ehehehe)
Seruu banget bacanya hahaha, bengong pas tau fakta siswa-siswanya suruh bebersih kelasnya sendiri, jadi ternyata itu benerann
Terima kasih ya sudah mau baca!
Iya dooong beneran hahaha. Di sini ngga kenal OB/OG, semuanya serba self-service. Semoga kalau dapat kesempatan ke Jepang, sudah paham situasi yaa hehe.