【Tips】Etika Datang ke Kawinan di Jepang

IMG_2870 copy.jpgAh.. 2018.

Semakin bertambahnya tahun, makin nambah juga… umur. Maunya sih forever 21, tapi apadaya semakin hari semakin… mateng (jerawat kalee).

Tapi beneran. Biasanya orang Indonesia itu rata-rata usia menikah berkisar 23-25an yak kalo perempuan. Nah, sejak tahun 2016, udah mulai bermunculan dah tuh berita-berita si Anu mau nikah, si Ini udah lamaran… Yang berujung menimbulkan pertanyaan: “Lu kapan, Cil?”

Aih pusing pala Inem.

Bukannya ngga mau… cuma masalahnya belon siap secara lahir-batin nih. Karena kan yang namanya kawinan itu, ngga kayak pacaran yang ga cuco langsung bhay. Bahkan ngga membutuhkan dana yang sedikit. Apalagi, gue sendiri masih baru banget menjajaki dunia karir di Jepang dan masih banyak yang belum tersampaikan cita-citanya. Berbeda dengan Indonesia, orang Jepang (seperti yang sudah diketahui khalayak di seluruh dunia) adalah orang-orang yang paling susah mau nikah dan punya keturunan. Pemerintah Jepang sendiri sebenarnya sudah memberikan banyak upaya biar rakyatnya mau memberikan generasi baru biar populasi makin banyak, tapi makin kesini, penduduknya semakin berkurang.  Usaha pemerintah agar rakyatnya mau punya anak adalah salah satu-nya, biaya hamil, persalinan, dan pendidikan untuk anak sangat dimudahkan, bahkan gratis. Jadi kan lumayan tuh, kebutuhan anak ditanggung oleh pemerintah?

Belum lagi, acara-acara ‘cari jodoh’ di tipi juga gencar, tapi nampaknya itu belum cukup.

Di kalangan anak muda (dan orang-orang biasa pada umumnya), ada juga cara comblang-comblangan yang disebut dengan gokoni (合コン)atau omiai (お見合い).

Perbedaan omiai dan gokon:

  1. Omiai dilakukan dengan cara ‘kopdar’ dan pesertanya itu satu lawan satu. Biasanya diperkenalkan dari keluarga/saudara-saudara terdekat. Kayak dijodohin lah gitu.
  2. Gokon itu sama seperti nomikai (drinking party), tetapi terdiri dari 3 orang atau lebih pasangan (misal 3 cewek dan 3 cowok), jadi kopar rame-rame (ada kenalan, atau temennya temen) tapi bertujuan buat cari jodoh. Banyak di kalangan anak-anak mahasiswa atau yang sudah bekerja.

Jadi setelah pertemuan (makan malem biasanya), kalau sampe tahap tukeran ID line atau wasap, nah sisanya silahkan gempur sendiri!

Gue pernah lho iseng nyobain gokon. Cowoknya gue kenal, makannya gue suruh dia cari dua temen cowok lainnya dan gue cariin dua temen cewek gue (emang dari dulu anaknya suka nyomblangin orang). Akhirnya 3 lawan 3, dan berakhir… ga ada yang jadian :))))) Yaaa ngapain wong kaga ada minat samsek. Kalau cocok, bahkan bisa sampai ke pelaminan! Living proof-nya adalah: host mother dan host father gue yang di Osaka :)))  Anaknya sendiri yang ngasih tau kalo mama-papa-nya ketemu di acara comblang-comblangan itu. Baiklaaaaaah..

Terima kasih atas koreksinya! (referensi: beberapa teman orang Jepang dan Maspey)

Nah kembali lagi ke topik. Pernikahan di Jepang sendiri itu, ribet banget. Karena baik si mempelai maupun tamu, harus mau direpotin sama beberapa prosedur yang ada. Mungkin ini juga salah satu alesannya mereka males ngeresmiin hubungan hehehe.

warning: postnya agak panjang!

 

Berikut gue akan kasih tau, langkah-langkah untuk menghadiri pernikahan orang Jepang:

note: Contoh di bawah ini undangan kawinan asli dari senpai gue.

Fun fact: orang Jepang ngga ngundang tamu sampe ribuan kayak Piki Prasetyoh dan Enjel Lega. Mereka biasanya hanya mengundang tamu-tamu terdekat termasuk anggota keluarga (paling banyak 30-40?), dan hanya mengundang teman yang sejenis kelamin saja. IYA BENERAN. Pengantin cowoknya ya ngundang temen-temen cowoknya, begitu pula sebaliknya. Kecuali kalau emang istimewa banget (seperti atasan, teman baik dari kecil, dll) dan udah dapet persetujuan dari masing-masing pihak, gapapa. Jadi, jangan coba-coba undang mantan, ya. Haram hukumnya.

STEP 1: Surat Undangan.

① Menerima undangan

3 bulan sebelum hari H (gile ye lama amir) biasanya surat undangan akan dikirimkan ke alamat kita (sudah pasti si calon pengantin lah yang nanya langsung ke kita, bukan tanya lewat mbah dukun). Pastikan itu undangan nikahnya buat kamu, bukan buat pak RT. Cek lagi nama dan alamat rumah kamu.

img_2869-copy.jpg
Karena double-check adalah koentji.

② Menjawab Undangan

Isi dari undangan itu adalah: absen. Bisa hadir/tidak. Kita wajib untuk jawab salah satu. Jangan lupa, berikan alasan kenapa kamu ngga bisa hadir di nikahannya (beneran lho ini udah kayak soal bahasa Indonesia). Biasanya, orang Jepang akan sempet-sempetin dateng karena merasa ‘ga enak’ kalau sampai menolak. So… the answer is… yes?

IMG_2871 copy.jpg
Di kolom message, kita juga bisa rikues (kalau iya sudah pasti mau datang). Misalnya: “Gue gabisa minum alkohol. Gantinya es doger aja ya, plis. tx.” atau memberi tahu kamu akan hadir dengan orang lain.

Tips: Sangat tidak disarankan mengundang orang lain yang di luar ruang lingkup antara kamu dan si pengantin. Karena si pengantin ini hanya ingin mengundang kamu, jangan bawa orang lain lagi tanpa sepengetahuan si pengantin. Mau kamu punya pacar atau suami/istri, mengajak pasangan kamu ke acara nikahan si pengantin tanpa izin termasuk perbuatan yang tidak sopan (walau misalnya kamu bayar juga, ya). Karena acaranya sudah disiapkan dari jauh-jauh hari, dan tempat duduknya pun sudah diatur sedemikian rupa (dalam case gue, ada absennya, di print kayak pamflet gitu).

③ Mengirim ulang kartu undangan yang berisi ‘absen’ kita.

Setelah kita jawab akan datang atau tidak, surat nikahannya (khusus yang absen, sisanya tetep kita pegang) kita kirimkan kembali. Ngga perlu repot-repot nulis alamatnya lagi, karena biasanya si amplop khusus ini udah lengkap tertulis alamat si calon pengantin berikut perangkonya. Jadi kita tinggal jeblosin aja ke dalem kotak pos.

IMG_2868 copy.jpg
Tulis nama dan alamat kamu juga biar si calon pengantin ga bingung itu dari siapa.

Tips: segera balas surat undangan nikahannya setelah sampai. Jangan kelamaan!

Setelah itu beres deh. Kita tinggal nunggu aja sampai hari-H. Mungkin kalau ada tambahan lainnya, si calon pengantin biasanya akan langsung nelepon kita.

 

STEP 2: Angpau.

① Sediakan angpau (ご祝儀/go-shuugi).

Saat menghadiri pernikahan orang Jepang, para undangan hukumnya wajib membawa angpau! Angpau ini, sebagai tanda terima kasih bahwa calon pengantin sudah bersedia menghabiskan uang dan waktu, memberikan pelayanan dan pemandangan terbaik sepanjang pernikahannya. Pemberian angpau ini juga salah satu wujud pengertian kita bahwa semua hidangan, acara, hiburan yang disediakan si pengantin tidak murah dan merupakan hal serius.

img_2872.jpg
Amplop angpau asli dari gue. Padahal baru aja gajian, kok ya.. :”

Eits, tunggu dulu. Memberikan angpau pun tidak bisa sembarangan, lho. Isinya pun ada aturannya!

Berikut contoh nominal ter-rendah sampai ter-tinggi untuk memberikan ‘donasi’ kepada pengantin:

Mahasiswa: ¥20,000 (sekitar 2,3 juta Rupiah)*.

Sudah bekerja/rekan kerja/bos: ¥30,000~¥50,000 (3,2 juta Rupiah~5,2 juta Rupiah)

Kalangan keluarga seperti saudara/sepupu dll: Lebih dari ¥50,000~ ¥100,000 (5,2 juta Rupiah~12 juta Rupiah)

Uangnya juga ngga boleh lecek, ya! Harus yang paling bersih, dan paling baru! Kalau bisa, minta tuker dah ke bank!

Dan semua ini hitungannya: PER-KEPALA. Bukan per-satu keluarga.

6jGvk_s-200x150.gif

Nah, kebayang kan kalau mau ngundang orang lagi, pasti nambah duit lagi? Hihihihi.

Tips: Kemudian disarankan juga, bahwa nominalnya harus yang ber-angka ‘ganjil’. Seperti 3, 5, 7… karena disinyalir, kalau memberi uang dengan jumlah genap (seperti 2, 4, 6…) dipercaya akan membuat rumah tangga-nya terbelah dua. Dan hindari 4 atau 9, karena itu sama dengan angka ‘sial’ untuk di Jepang.

Not-so fun fact: Misal kamu berhalangan dan ngga bisa hadir ke nikahannya, kamu tetap harus ‘donasi’-kan sebesar ¥10,000 minimal.

② Pemilihan kantong angpaunya (ご祝儀袋/Go-shuugi bukuro)

ご祝儀袋.jpg
Semakin bagus desainnya, semakin bagus pula ‘isi’-nya! (Cr: http://mzstyle.net/gift-envelopes.html )

Meski begitu, kantong-kantong angpau ini banyak dijual di lawson atau kombini terdekat. Kalau mau beli yang bagus banget, harus pergi ke stationary di Jepang seperti: Tokyu Hands.

③ Cara menulis di amplop angpaunya.

Nah, guys, cara nulisnya juga pakai aturan. Ngga bisa sembarangan nulis cuma “Dear mas Pengantin,” atau “Selamet yee. Tertanda, mantan terindahmu.” Nggaaa…

Karena yang nikahan orang Jepang (dan pastinya di Jepang), kita harus nulis pakai tulisan Jepang (Kanji). Tenang, ini optional kok untuk foreigner hehehe.

Kan amplopnya rame sama hiasan tuh, nah sebenernya hiasannya bisa dicopot. Jadi pada dasarnya, ada amplop putihnya sendiri yang khusus buat masukin uangnya.

pack1.png
Bagian depan amplop (kiri) bertuliskan 金 (kin/kane) kemudian menulis jumlah ‘donasi’ yang kita berikan. Angka-nya pakai kanji jadul. Contoh: 70ribu yen. Kemudian di amplop bagian belakang (kanan) ditulis alamat dan nama lengkap kita. Perhatikan juga posisi uangnya, ya! (cr: https://shuugi.com/how-to-pack2.html )

Kemudian di amplop yang banyak hiasannya itu lagi, sekali lagi kita tulis nama kita disitu. Kalau untuk satu orang, bisa ditulis ‘menurun’ seperti di bawah ini. Dan batas penulisan nama di amplop ini, sampai 4 orang saja.

IMG_2621-330x440.jpg
Tulisannya juga harus bagus gaboleh blepotan. (cr: weddingjournal.net)

Kemudian satu hal lagi yang harus diperhatikan, adalah bentuk pita untuk ‘mengikat’ amplopnya. Seperti terlihat di gambar atas, pita-nya harus bisa berbentuk bulatan seperti lingkaran atau mendekati angka 8. Karena itu menandakan hubungan yang terus berlanjut tanpa batas, dan tidak diperkenankan mengikat pita-nya seperti pita kupu-kupu. Karena bentuknya terlihat seperti garis putus, yang seakan-akan mendoakan pernikahannya cepat kandas. Kejem ye.

Amplop angpau ini jangan sampe lupa dibawa! Biasanya di receptionis sambil mengisi buku tamu, kamu bakal diminta amplopnya dan akan ditukar dengan goodie bag yang keren-keren. Woh iya lah pasti bagus, secara mahal banget donasinya… *menangis semalam*

Tips: Mau kasih hadiah berupa barang? Hindari barang pecah belah karena dipercaya bisa berakibat meretakkan rumah tangga calon pengantinnya. Juga pisau atau gunting,  karena dipercaya bisa memutus hubungan keduanya. Kemudian barang-barang yang segera lenyap (seperti lilin, bath bomb, dll). Kebanyakan hadiah yang diberikan untuk para pengantin adalah: Alat masak (seperti panci, penggorengan, pot, dll), voucher belanja, dan barang-barang bermanfaat yang bisa digunakan kedua mempelai.

STEP 3: Aturan Berpakaian.

① Untuk perempuan: dilarang pakai dress putih!

Karena dianggap tidak sopan, sudah menyamai dress pengantin. Jadi, hindari warna-warna putih atau terlalu gonjreng pada saat pesta malam hari. Kalau siang, gunakan baju yang berwarna lebih soft dan tidak hitam (berikan hiasan seperti kardigan putih atau kalung berwarna). Biasanya, banyak tamu yang menggunakan rok terusan (one piece), dan panjangnya selutut. Ngga boleh pake rok mini atau heels yang setinggi menara Burj Khalifa.

Sedangkan untuk pria, hindari jas-jas berwarna cerah (karena pasti pengantin pria juga akan mengenakan jas berwarna cerah) atau gelap (seperti hitam–seperti hendak berkabung). Disarankan gunakan jas berwarna abu-abu gelap (bukan hitam), atau biru donker, hijau gelap, disesuaikan dengan tema.

Buat cowok-cowok, nih cek contohnya ya~

Disarankan juga agar tidak memakai dress dengan motif yang ramai: seperti motif macan tutul. Situ mau ke kondangan, bukan join acara sirkus, bo.

Boleh banget menggunakan kimono/yukata!

giphy.gif
Wadu. Apalagi yang kayak begini…

② Asesoris dan tatanan rambut, buat yang sederhana namun tetap menarik.

23406095_1120106844790945_4027793466379178974_o.jpg
Salah satu contoh hairstyle buat ke kondangan. Photo by: Yuki Iida.

Jadi jangan pernah pakai hairstyle ala Incess ya, pembaca yang budiman. Jangan pernah coba-coba bikin Jambul Khatulistiwa atau Poni Anti Badai.

Asesorisnya juga hindari yang mengkilap banget kayak abis disemir ya. Boleh pakai yang polos seperti mutiara, atau yang less shiny meski kutahu kalian semua shine bright like a diamond, tapi ingat kalian tetap bukan Rihanna.

③ Jangan bawa tas yang segede gaban!

Cukup tas kecil seperti clutch, karena.. hey, this is only a wedding! Ngga perlu banyak barang yang dibawa juga, kan? Dan lagi-lagi, hindari motif yang rame, ya. Harus yang polos dan sederhana.

Fpt2HaO.png

④ Enjoy the wedding party!

Konsep pernikahan (resepsi) di Jepang, biasanya diadakan di sebuah ballroom besar, dan menyediakan menu makan malam course yang disajikan secara berurutan.

Fun fact: Resepsi pernikahan Jepang tidak ada ‘tradisi’ mengirimkan karangan bunga.

Tugas para tamu, hanyalah menyantap hidangan makan malam sambil melihat pengantinnya datang dari luar ruangan atau menonton video-video kenangan yang dipersembahkan oleh kedua mempelai. Jadi iya, sepanjang acara, duduk manis saja. Jadikan kedua mempelai itu benar-benar Raja dan Ratu sehari!

Sebelum makan malam, biasanya diadakan sambutan-sambutan terlebih dahulu (dari orang tua, atasan, sahabat terdekat mempelai, dll).

23415513_1120106821457614_2008730269420899375_o.jpg
Mas Katayama, ex. drummer-nya Indonesia Attack, sahabat baiknya mempelai pria, memberikan sebuah pidato selamat sekaligus himbauan agar teman-teman lainnya (dan dirinya) segera menyusul. Photo by: Yuki Iida.
23467392_1120104861457810_3698898018895511871_o.jpg
Sambutan dari pengantin pria yang menggunakan kimono khas pengantin. (Photo by: Yuki Iida)

Berbeda dengan pernikahan di Indonesia, di Jepang itu pengantin-nya lah yang jalan-jalan keliling menemui para tamu! Kadang suka memberi coklat, bingkisan kecil, sekedar menyapa… udah kayak artis deh! Seru-nya lagi, satu acara itu, kedua pengantin bisa berganti baju sampai 3 kali banyaknya.

23405825_1120105891457707_7686522440177146299_o.jpg
Ketika pengantin sudah berganti ‘kostum’ ke-dua kalinya. Photo by: Yuki Iida. (p.s. mas yang sebelah kanan, jomblo ngga, mas?)

Dan karena ballroom-nya biasanya supergede, asal masuknya si pengantin itu suka misterius. Kadang ada yang tiba-tiba dari belakang lah, atau dari lantai dua lah, atau tiba-tiba udah di depan lah. Sungguh, itu semua hanya Tuhan dan W.O-nya yang tahu..

23275513_1120108164790813_4220021233145745538_o.jpg
Pengantin yang berganti kostum yang terakhir kalinya, sedang berjalan melewati meja-meja tamu. Photo by: Yuki Iida.

Tentu saja, adanya ‘atraksi’ ini ngga mengharuskan kita berhenti dari makan malamnya kok. Bahkan apabila suasana sudah agak tenang, anggota keluarga dari kedua mempelai biasanya keliling ke meja tamu untuk berkenalan, sambil membawa sebotol bir, sebagai tanda mereka ingin tahu teman-teman dari anak-anaknya. Kalau kamu ngga bisa minum bir, ngga apa-apa. Bisa katakan terus terang, dan ajak anggota keluarga tersebut bersulang bersama.

AFTER PARTY

Setelah acara resepsi (inti) selesai, biasanya para pengantin ini ngga mau buru-buru melepas lajang. Maka, sudah pasti akan ada after party atau pesta lagi setelah pesta pernikahan! Lain orang, lain acara sih, tapi karena pengantin yang kali ini gue jadikan contoh adalah mantan senpai gue pas di club musik di kampus dulu, acara after party-nya sekaligus dijadikan acara ‘reunian’ semua musisi kampus maupun lokal sekitaran kampus.

Udah ga paham lagi deh mendeskripsikan kata ‘seru’ itu gimana hahaha.

23331455_1120110628123900_2324208227480396670_o.jpg
Para tetua musisi tingkat kampus dan lokal bergabung nge-jamm bersama tanpa sadar usianya sudah hampir kepala 3 semua. Photo by: Yuki Iida.

Acaranya ini berlangsung sampai jam 12 malam. Kalau acara resminya, biasanya dari jam 7 sampai 9 malam. Disini, pastinya kita dikenain charge lagi, sekitar 4000yen per/orang *buka dompet* *nangis*, dan ga ketinggalan: All you can drink!

23331362_1120109368124026_3974572709647137302_o.jpg
(1) Lho siapa bilang aku ndak berkontribusi? Itu buktinya ada. Di belakang. Ga keliatan. Kehalangan mic. Photo by: Yuki Iida.
23331249_1120109811457315_1302849824406723600_o.jpg
(2) Karena gue stres diliatin dua pengantinnya pas gue maen, akhirnya gue suru aja mereka slow dance dengan tembang kenangan dari Babang Elpis Presli. Bukannya joget yang mesra, pasangan ini malah goyang poco-poco… Photo by: Yuki Iida.

Kalau di after party, acaranya udah bebaaas. Boleh banget pake baju dress yang lebih gonjreng, karena pasti pengantinnya juga udah ga pake gaun panjang bak Cinderella lagi. Semua temen-temen disini juga sebagian berganti sepatu sneakers, atau ada yang memilih bertahan dengan sepatu hak rendah mereka. Tetapi mostly, mereka semua ganti baju hehehe.

23331361_1120107194790910_3202664825105573786_o.jpg
Terakhir, foto bersama!

Demikian tips-tipsnya buat pembaca yang budiman, apabila ada kesempatan menghadiri sebuah pesta pernikahan di Jepang.

Selama ini gue sudah mendatangi dua resepsi, tapi belum pernah lihat yang ‘akad’-nya (bukan Payung Teduh, tapi yang pakai kimono putih dan acara pemberkatan sama pendeta Shinto-nya).

Banyak orang Jepang yang ‘males’ pergi ke nikahan itu sebenernya karena ‘nda sanggup’ bayar donasi-nya. Lha ya semakin tinggi jabatan, semakin gede ngasihnya. Belum lagi kalau datang berdua, misal bawa pasangan, satu orang 50ribu mah udah seharga Aipon Eks itu… (p.s. bahkan gitaris gue si Amami, katanya cuma ngasih lima rebu doang di amplop pffffttt… sing penting ganjil, tho? wkwkwkwk)

Intinya saling menghargai. Itu salah satu syarat untuk bisa tinggal disini agak lamaan. Karena sang pengantin ingin membagikan hari istimewanya kepada semuanya, masa kita juga tidak membalas dengan yang baik juga? 🙂

Apa konsep pernikahanmu mau dibuat seperti ini? Hihihi.

 

Post ini didedikasikan untuk Dora-san dan Chika-san.

Referensi:

https://hana-yume.net/howto/congratulations-wedding/

https://www.mwed.jp/manuals/140/

https://www.mwed.jp/articles/169/

https://shuugi.com/how-to-pack2.html

https://www.mwed.jp/manuals/773/

https://www.bloomee.jp/articles/359

11 thoughts on “【Tips】Etika Datang ke Kawinan di Jepang”

  1. Donasinya itu bikin pingsan.
    Di indonesia kan ga perlu isi angpao banyak-banyak, lah di jepen, bikin pengen nangis. Haha
    Urusan pakaian juga ribet. Disini bebas mau pake apa aja..asalkan tamunya nyaman.
    Tapi soal undangannya sih bagus, personal sekali
    Kalo di jepen ga ad yg ngundang via medsos ga sih? Kalo disini kan banyak yg ngundang via medsos.

    1. Halo! Hahaha iya kaaan. Donasinya bikin gaji amblas sekejap.
      Berbeda ya dengan di Indonesia, boleh bawa rombongan sekeluarga dan sumbangnya satu amplop aja.
      Di Jepang ngga ada undangan via medsos, meski ke teman sendiri. Karena ya budaya medsos disini juga kan ga se-menjamur di kita,
      dan tentu saja ngundang via medsos dianggap kurang sopan.

  2. mbak Puriiiii yang berombongan dan bisa ajak kanan-kiri sesukanya itu bukannya goukon? Omiai kan yang pakai foto (dan kadang malah resume) segala macem?

    1. woh aku baru kroscek juga nih. Kelupaan soal Gokon dan Omiai.
      Kalau Gokon itu, iya dicomblangin sama temen-temen dan jumlahnya bisa banyak (grup). Kalau Omiai, yang nyomblangin keluarga/yg terdekat. Tapi kalau jadian atau engganya, tergantung si yang dijodohinnya. Makasih sudah diingatkan! Akan dikoreksi!

Leave a Reply to cKCancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.