Para pembaca yang budiman,
semuanya punya teman berbulu ngga di rumah? Atau mungkin teman baiknya itu tidak berbulu? Atau less hairy? (apaan sih Cil). Pasti beberapa diantara para pembaca, punya peliharaan kesayangan entah itu Kucing, Anjing, Burung, Ikan, dan lain-lain.
Gue juga ada, di rumah gue di Jakarta. Gue punya 2 meng yang baru saja ber-reproduksi beberapa minggu lalu, melahirkan 4 kittens yang siap diadopsi huaheahuheaua. Sebenernya ga berniat nyuruh mereka bikin anak juga sih.. Kecelakaan. *halah*
Keluarga gue semuanya pecinta kucing. Dari emak, babeh, alm. nenek, sepupu-sepupu, semuanya suka sama Meng. Apalagi dulu alm. Nenek dari bokap gue melihara lebih dari 30 kucing (termasuk kucing kampung dari luar yang dirawat). She was the actual cat lady! Kucing-kucingnya juga (konon katanya) punya banyak banget kelakuan yang aneh-aneh. Ada yang kepalanya bisa di’plitekin’, ada yang galag banget gabisa dipegang, bahkan ada yang doyan… whisky! Hahahaha (katanya sih adeknya bokap iseng nyolekin whisky ke tangan si Mpus. Dijilat-jilat, eh ternyata doyan terus akhirnya pernah dikasih minum semangkuk keciiil banget, kucingnya jalannya oleng. Busyet. Tapi tenang, sodara-sodara. Whisky-nya ga dikasih sering-sering. Setau gue cuma sekali itu aja dan kucingnya juga ngga keracunan kok. Yes, sounds crazy if this happening in 2018. Bisa tewas dibully massa).
Sejak nenek gue meninggal (dan kucing-kucingnya juga ikutan mati satu per-satu), akhirnya keluarga gue pindah rumah. Nah di rumah baru inilah, akhirnya kita mulai melihara kucing.
Sebelumnya, kita pernah melihara satu burung Nuri Kepala Hitam dari Papua, namanya Zazu (bokap gua demen Lion King), namun ilang gatau diambil siapa. Padahal udah paling jinak sama gue dan alm. nenek gue dari nyokap 🙁 Gue nangis kejer pas tau itu burung ilang dan posisinya gue udah di Jepang.
So akhirnya, setelah banyak pertimbangan, kita pun mulai pelihara kucing. Kucing pertama kita di’ambil’ dari pasar :)) karena adek gue ngeliat ada anak kucing lucu, terus nangis-nangis minta dibawa pulang. Akhirnya daripada rewel terus, akhirnya dibawa pulang deh itu satu anak kucing. Pake bajaj :)))
Dan kucing ini diberi nama: Imu. Singkatan dari: Ilang boleh neMU.

Meski dirawat sejak kecil, kucingnya gualaaag hahaha. Agak susah digendong, marah-marah mulu, suka nyakar, suka gigit. Tapiiiii.. tidak selalu dia begitu. Meski sensian kayak cewek lagi PMS, Imu ini pintar. Dia punya tenaga yang kuat. Ngerti nama. Kalau dipanggil, suka nyamperin dan nyaut. Sukanya lendotan di kaki, gasuka dipegang pake tangan.
Kalau ditaruh di luar, biasanya akan menyambut kita semua pulang dengan ngeong-ngeong dari balik pagar dan langsung lendotan di kaki. Kalau gemes mau gendong, harus dari belakang biar ga keliatan hahaha.
Namun sayang, kehadiran Imu ngga lama disekitar kita. Karena Imu dan bokap gue ini ngga akur (akibatnya si Imu suka gigit jempol kaki bokap gue), dibuang lah si Imu..
Nyokap sendiri sedih banget karena dia yang terpaksa melepas Imu buat di’buang’ entah ke pasar atau kemana sama orang suruhannya. Jelas, disitu katanya ada bokap gue. Gue juga cuma bisa nangis denger berita duka ini di kosan. Padahal sehari sebelum gue balik ke Jepang, gue masih lihat sosok si Imu. Meski kucing kampung, Imu ini bersih. Ngga jorok. Ngga makan sampah. Gue sampai saat ini masih selalu berdoa semoga Imu dilindungi dan anak-anaknya sehat selalu.
Beberapa hari sebelum kepergian Imu, sebenernya nyokap dikasih anak kucing baru sama temennya bokap. Padahal nyokap udah ogah banget buat miara kucing lagi karena ga ada yang ngurus hahaha. Tapi ya udah dikasih sebagai hadiah ulang tahun, mau ngga mau diterima dan dirawat deh.

Namanya Hima.
Dan ini kucing dulu dimusuhin abis-abisan sama si Imu hahaha. PDKT-nya susah banget dan gabisa dijodohin.
Alhamdulillah, Hima masih hidup dengan sehat sampai sekarang, tanpa penyakit, tanpa cacat, dan dicintai seluruh orang di rumah. Dan dia jadi kucing kesayangannya bokap bahahaha.

Hima itu punya sifat yang pasrahan. Mau diapain aja. Digendong-gendong, diuyel-uyel, dipijit-pijit, diapain aja nurut. Dan Hima gapernah nyakar atau gigit.
Paling kalau lagi main-main aja gigitnya. But so far, he is a nice cat. Tapi berbeda dengan Imu, Hima ini agak oon dikit wkwkwk. Ga langsung nyaut kalo dipanggil namanya. Tapi gapapa, Hima menggemaskan jadi dimaafkan wkwk.
Tidak cukup sampai disitu, Hima yang mulai beranjak dewasa (?) pun ingin mengenal dunia percintaan *HALAH*. Akhirnya nyokap bikin sayembara:
“Barang siapa yang memiliki kucing betina jenis apa saja, hendaknya dipinjamkan kepada Saya untuk tujuan menambah keturunan anak bulu sekaligus menghindari perzinahan yang mengakibatkan kehamilan di luar rumah.”
Iye, Mak.
Dan kemudian, pilihan jatuh kepada seekor kucing tetangga yang manis namun suka jual mahal, bernama Minnie.

Kata adek gue, Minnie itu prihatin banget hidupnya sebelum ‘bergabung’ ke rumah kita. Katanya selalu dikandangin di kandang yang sempit, bau, kecil.. semua makanan including toiletnya disitu.. pokoknya hidup dalam kesempitan banget deh.
Sampe katanya Minnie ngga mau makan, mungkin karena stres ya. Tapi seiring waktu, akhirnya Minnie mau keluar dan bertemu dengan sang calon mempelai Pria huheuaheuahuehue.
Membutuhkan masa PDKT yang lama karena Minnie ini judes banget, entah pakai taktik apa, akhirnya Hima the Prince mendapatkan hatinya Minnie. Jadilah mereka keluarga bahagia karena kehadiran empat anak bola bulu baru.

Meski awalnya sebel banget karena bakal repot ngerawatnya, akhirnya dengan bantuan adek (dan gue kadang-kadang kalo balik ke Indo), kita bergotong-royong beresin makan dan kandangnya. Kalo bokap sih, tugasnya cuma bagian maenin kucingnya aja :p
Anyway, kalau ada yang mau mengadopsi kitten-kitten lucu ini, boleh banget. Tapi syaratnya harus sayang sama binatang dan ngga boleh disia-sia-in, ya.
Yang kuning dan totol-totol udah ada yang tag. Sisanya tinggal dua. Hehe.
So, please adopt don’t shop. Karena banyak hewan-hewan di luar sana yang butuh forever home. Dan biasanya beli di petshop itu mahal banget, atau kadang ada yang kuku-kuku hewannya udah dicabutin dengan tujuan biar ga melukai pemiliknya. Kalau adopsi, gratis kok. Kitten-kitten gue boleh diambil secara gratis (rencananya mau di-vaksin dulu), tapi ya harus ambil sendiri ya :)))
Mungkin gerakan untuk hewan begini masih amat jarang ya di Indonesia. Di Jepang apalagi. Di petshop, harga satu kitten bisa sampe 20jeti. Modyaaaar.
Jadi buat kalian pecinta hewan dan butuh temen uwel-uwel, adopsi dan berikan mereka kasih sayang juga selama kalian bisa berkomitmen dalam merawat hewannya 🙂
Fun Fact: Gue dulu punya banyak ikan cupang. Karena gue suka sama ikan cupang, dan nyokap pernah beliin gue 3 ikan cupang warna merah, biru, dan kuning sebagai hadiah ulang tahun. Miaranya gampang dan ikannya umur panjang! Hehe. Dan sebelum ke Jepang, gue pernah melihara iguana kecil juga yang gue beli di kaskus, tapi sayangnya mati karena mogok makan sejak gue tinggal ke Jepang..
This post is dedicated to all my pets that already crossed the rainbow bridge and all of the pets around the world.

suka banget baca tulisan-tulisn ini. apalagi isinya ttg jepun. dngan membacanya serasa ada dsitu aja, selama ini cuma tau hal-hal tentang jepun dari waku-waku apa NHK ;)….
tulisan kucing ini yg paling ingin di komen karena saya juga suka kucing. binatang menggemaskan!! 😀
oh iya apa betul kalo do jepang itu persaingan hidup ketat banget?? dan apa betul juga kalau minat wanita untuk menikah disana itu rendah?
trima kasih yaaa…:)
Halo! Terima kasih sudah mau mampir ke blog saya 🙂
Nihyaa kujawab pertanyaan2nya:
1. Hmm persaingan hidup itu gimana dulu. Maksudnya ngga bacok-bacokan untuk yang bertahan hidup, kan? (?)
Yaa dari segi bertahan hidup untuk kerja, memang ketat dan berat. Tapi pemerintah Jepang punya banyak program dan cara agar semua rakyatnya bahagia. So far, untuk yang homeless2 itu sangat sedikit sekali di sini.
2. Ngga hanya wanita, semua orang Jepang memang minat untuk menambah keturunan aja dikiiiit banget haha. Mengingat apa-apa serba mahal, biaya mengurus anak dan tanggung jawab juga besar dan menyita waktu. Makannya orang-orang di sini lebih baik kerja sampe pingsan daripada ngurus keluarga yang menurut mereka cuma buang2 waktu dan uang aja. serem ya 🙁
semoga membantu 🙂
wow…….yang poin 2 itu. serem…… ;o
trims yah jawabannya.
sk banget sama budaya2nya dan tradisi2 yang msih dipegang sm orang2nya itu.