Beberapa tahun belakangan ini, gue mulai merasa (kebanyakan) rakyat Indonesia, terutama di Jakarta, ini lagi krisis banget sama hal-hal relijius dan budaya asing. Entah kenapa, kalau baca berita itu semua isinya ngga jauh-jauh dari hal berbau SARA, kebencian, dan hujatan sana-sini. Gue sampe heran, ini orang-orang kayak begini hidupnya senggang amat ya sempet-sempetnya dikit-dikit benci sama orang.
Beda pendapat, dibenci.
Beda jalan pikiran, dijauhi.
Beda agama, dimusuhi.
Beda perasaan, digantungi (?) *woy gosah curcol woy
Terkadang suka agak merasa, bahwa sebenernya kebiasaan ‘mengkotak-kotakkan’ antara satu sama lainnya ini udah ada sejak lama, tapi karena zaman dulu belum ada medsos atau media buat tempat koar-koar dan cari pasukan huru-hara, jadinya ngga terlalu dikenal dan kita cenderung nanggepinnya biasa aja. Dan ini sungguh berasa di usia gue yang sekarang, bahwa kebanyakan orang-orang yang menaruh sekat-sekat pembenci ini datangnya dari orang-orang yang seumuran orangtua gue.
Kebetulan? Gue rasa sih ngga.
Sedari kecil, gue yakin semua pasti diajari untuk saling menyayangi ke semua makhluk hidup. Mau itu rumput alang-alang, rumput sapi, rumput liar, bunga matahari, bunga Raflessia Arnoldi, tidak lupa juga kepada hewan dan manusia lainnya. Hal tersebut semata-mata sebagai wujud rasa solidaritas kita sebagai makhluk sosial dan juga untuk menciptakan kerukunan dalam perdamaian antar sesama (asyek dah pelajaran PPKn banget wkwk). Tidak hanya dari segi sosial, dari segi agama pun seluruh agama di dunia ini (termasuk agama Flying Spaghetti Monster) tidak ada yang mengajarkan kebencian maupun permusuhan. Kemudian yang namanya manusia, kita punya akal punya hati, nalar, punya otak yang jauh lebih ‘beroperasi’ ketimbang hewan pun menciptakan warna-warni kehidupan yang selama ini kita rasakan sehari-hari. Setiap orang pun berbeda-beda meski berasal dari tempat yang sama. Perbedaan tersebut mencakup dari: fisik, mental, sampai selera. Kecuali Indomie, itu selera semua orang (?)
Perbedaan selera ini nih, yang kadang bisa jadi pemersatu maupun pemecah belah bangsa. Dimana seseorang yang berada di komunitas tersebut seperti kaum yang hanya minoritas mau ngga mau ikut ke selera yang mayoritas agar lebih diterima, atau karena unsur takut, atau memang sudah tidak selera lagi dengan selera yang lama (ini apaan sih). Tidak hanya pada komunitas, secara pribadi pun kita memiliki selera. Dengan adanya selera ini, kita yang memiliki kecerdasan di atas burung beo ini (?) pun memproses akal dan nurani kita untuk membuat sebuah keputusan akan sebuah pilihan dari selera kita. Ribet ya bahasa gua… iya maap.
Perlu dijelaskan lagi, gue bukan seorang psikolog (meski gue ingin sekali menjadi psikolog). Gue curhat di sini karena ingin menanggapi saja berdasarkan apa yang gue baca, lihat dan rasakan dengan memberikan sebuah opini. Tolong gue jangan digebukin dulu.
Sebenernya ini gue sedang berusaha mengaitkan judul dan apa yang mau disampaikan sih wkwkwk. Oke jadi jelas ya, bahwa manusia itu berbeda dari ujung rambut sampai ujung jempol kaki, mau dari selera, kesukaan, dan lain-lainnya you say it, termasuk orientasi seksual.
Seperti yang kita tahu, sebenarnya LGBT (Lesbian Gay Bisexual Transsexual) ini udah lamaaaa banget malang-melintang di dunia. Komunitas yang memiliki simbol warna-warni ini belakangan ini keblow-up di Republik, dan efeknya sungguh ruarrrr biasa. Masalah yang sangat mengganggu gue ini adalah, permasalahan LGBT yang jelas-jelas lebih ke ranah pribadi sebagai ‘selera’ dan (mungkin) ‘pilihan’, malah dikait-kaitkan ke segala hal, termasuk hal yang se-sensitif agama dan Pancasila.
Di dalam Al-Quran dan Alkitab pun sudah dijelaskan bahwa dulu ada zaman kegelapan di masa Nabi Luth yaitu zaman Sodom dan Gomora, dimana semua penduduknya penyuka sesama jenis. Kemudian yang sudah diketahui, bagaimana Tuhan melaknat penduduk tersebut dengan membalikkan tanah di tempat tersebut hingga rata. Benar, agama sudah menggariskan bahwa laki-laki dan perempuan memang kodratnya harus berpasangan dengan bertujuan menambah keturunan sebagai penerus. Sudah jelas pula, apabila kita bicara agama, barangsiapa melanggar kodrat ini, sudah jelas penaltinya adalah dosa dan azab yang pedih *suara adukan semen terdengar dari jauh* *if you got my reference*
Oke, lantas, manusia semakin modern, zaman semakin berkembang, tren sana sini pun semakin mengudara. Masih ada juga orang-orang yang ternyata mengikuti tren zaman Nabi Luth tersebut tanpa takut dosa. Alasannya pun beragam. Dari yang emang merasa ‘terjebak di tubuh yang salah’, atau emang secara murni ‘ngga doyan cewek’. Bahkan ada juga yang memiliki alasan traumatis seperti ‘pernah disakiti cowok, udah sayang sama cewek aja’ begitu. Gue pun memahami bahwa ngga semua orang yang memiliki orientasi seksual ‘nyerong’ ini bukan orang-orang yang tidak paham soal agama. Mereka tahu dosa. Mereka tahu itu salah. Tetapi ternyata mereka ‘memilih’ demikian, dan itu sudah jadi keputusan mereka hidup dengan situasi dan kondisi tersebut. Selebihnya? Mereka hidup normal. Mereka sekolah, kerja, makan, berbisnis, berolah raga, bercengkrama… ngga ada hal janggal lainnya. Bedanya kalau yang ‘normal’ tiap malming gandeng lawan jenis, mereka gandeng yang sesamanya. Untuk orang asing, jelas itu ajaib. Tapi buat yang sudah paham akan kondisi mereka dan terbuka, juga mengerti dan menghormati keputusan mereka, ya ude biasa aje.
Nah dari sini gue akan memberikan rentetan pertanyaan yang butuh jawaban:
1. Dengan perbedaan orientasi seksual seseorang, harukah kita merasa jijik dengan kehadiran mereka?
2. Dengan mereka merangkul pasangan sesama jenisnya di muka umum, apakah akan ‘menularkan’ orientasi seksual mereka yang aneh itu kepada siapa saja yang lewat?
3. Hanya karena seorang pria berpacaran dengan pria lagi, perlukah/bolehkah mereka langsung dibunuh dengan tujuan agar tidak ada lagi yang seperti mereka dan tidak memberikan mereka kesempatan hidup sama sekali?
4. Hanya karena seseorang menyukai sesama jenis, pantaskah hak hidupnya dirampas dengan tidak memberikan mereka pekerjaan dan lainnya karena seleranya dalam memilih cinta?
5. Okelah kehadiran pasangan-pasangan sesama jenis ini mengganggu penglihatan. Tapi apakah mereka pernah mengganggu penduduk setempat dengan bakar-bakar rumah, demo nomor cantik, fitnah sana-sini, sebar berita-berita hoax di WAG? Pernah menjelekkan Pancasila? (Another thing, karena berkat mereka ini lah penduduk jadi ngga overpopulasi ya wkwk)
Sabar, jangan asah golok dulu. Gue ingin menekankan juga bahwa: Gue tidak mendukung LGBT dan kontra akan pernikahan sesama jenis.
Iya. Gue juga berpikiran bahwa perempuan kodratnya udah sama laki-laki, bukan sama meja.
Tetapi ini tidak membuat gue memusuhi orang-orang sekitar gue yang LGBT atau merasa aku jijik aku benci. Tidak ada pikiran sama sekali untuk ‘membunuh’ mereka dan menganggap mereka ga pantas hidup di bumi Tuhan ini karena orientasi seksual mereka yang ‘nyerong’. Kalau disuruh datang ke nikahan sesama jenis juga gue santai akan datang sebagai bentuk menghormati. Buat gue, mereka masih punya hak hidup, hak apapun yang setara dengan orang-orang berpasangan normal pada umumnya. Tidak ada yang berbeda dari mereka. Sama-sama manusia, mungkin memiliki Tuhan yang sama, hanya selera cinta yang berbeda.
Urusan mereka terkena penyakit atau azab apapun yang orang-orang katakan, biarkan itu jadi tanggung jawab mereka. Kita sebagai heteroseksual, mendingan ngga usah ikut mencaci-maki akan pilihan mereka. Apa dengan jijik dan geli dengan kehadiran homoseksual, membuat kita, para heteroseksual lebih baik? Ngana yakin bakal masuk surga dengan jelek-jelekin mereka? Ngana yakin ngga ada dosa lainnya sebagai manusia yang penyuka lawan jenis, hm??? Hm????
Tidak sedikit lho keluarga yang memiliki kaum LGBT malah hidup jauh lebih harmonis ketimbang yang ‘normal’. Yang ada dengan nyinyir dan nyalah-nyalahin sosmed atau alasan lainnya yang ga konkrit, bikin para heteroseksual ini terlihat sangat menyebalkan di mata para homoseksual. Emang, gue juga sebagai hetero liatnya nyebelin banget yang model begitu.
Kemudian lucunya, hanya karena seseorang itu homoseksual, mulailah banyak spekulasi mengenai sumber pembentukan jati diri ‘nyerong’ ini dari hal luar.
Ada yang menyalahkan orangtua si anak. Katanya “Orangtua anak-anak ini ngga pernah ada di rumah apa? Ngga pernah ngajarin anak-anaknya soal moral? Ke mana aja smape anak-anaknya jadi homo gini?”
Ada lagi yang menyalahkan sosial media sebagai sumber yang mempengaruhi seorang individu sangat kuat.
“Semua gara2 pesbuk! Twitter! Instagram! Nampilin foto-foto pasangan sesama jenis, jadinya ikutan kan!!”
Sebentar, mohon maaf nih, bu, pak. Kalau boleh dibalikin, kenapa anaknya mau aje ikut-ikutan jadi hombreng? Ya mbo ya kalau ga mau begitu, bisa diajari anaknya untuk menahan diri dan ada self-control untuk memilah milih mana yang benar mana yang gaperlu diikuti.
Gue ngga pernah percaya bahwa orientasi seksual, kejahatan seksual, perselingkuhan disebabkan karena pengaruh sekitar, karena korban mengundang, atau karena adanya perebut pasangan. Berdasarkan yang sudah sering gue alami dan lihat sendiri, ketiga hal tersebut lebih ke bagaimana kita menanggapi dan memutuskan sendiri tindakan kita. Selera kita menjadi gay, seorang penjahat kelamin yang ngga bisa kontrol nafsu dan adanya kesempatan, dan perselingkuhan karena rasa suka kedua belah pihak.
Kita manusia, bukan benda atau zat yang bisa dipengaruhi maupun direbut. Kita punya otak, bisa berpikir mana benar mana salah. Kita punya hati, kapan kita bisa meredupkan dan menyalakan perasaan terhadap seseorang. We are in control for ourselves! LGBT pun bukan penyakit menular, bukan budaya, bukan kotoran. Semua murni karena keputusan individu. Gue ada teman yang gay, bi, lesbian, twitter gue terbuka untuk followers manapun, gue tinggal di negara yang ga beragama dan mungkin pendidikan moralnya tidak seketat di Indonesia. Lantas, haruskah gue ikut-ikutan jadi lesbi dan rusak moral juga? Gue aman-aman aja sampai sekarang dan masih napsu liatin cowok juga wkwkwk.
Tolong hapus stigma-stigma kalian terhadap adanya orang-orang LGBT di sekitar kita. Seandainya dunia terbalik kalau kita yang di posisi mereka, pasti ngga enak juga, kan? Apalagi dikucilkan karena selera berbeda. Sakit lho itu, Jendral.
Kamu ngga perlu mendukung komunitas LGBT, tapi tidak perlu juga menghakimi maupun membenci. Mereka masih manusia, punya hak hidup. Kalau kalian bicara soal agama, here: Tuhan masih kasih mereka rezeki dan kemudahan, biarkan mereka nikmati hidupnya seperti kita.
Tuhan kerjaannya juga ngga cuma menghukum manusia. Bener kata mas Nathanael ini. Kalau Tuhan aja masih kasih kebaikan dan kemudahan kepada orang-orang LGBT, kalian berani protes, ngga? Misal: “Tuhan, kenapa orang-orang kayak gitu ngga diazab aja langsung??”
Tuhan saja Maha Pengampun dan Maha Baik.
Manusia memang Maha Menjudge Segalanya Yang Penting Saya Benar Berdasarkan Broadcast Grup Whatsapp.
Mending daripada ngurusin gituan, tuh coba lihat politik kita dengan ormas-ormas dan oknum amburadul yang menyebar kebohongan dan kebodohan. Lebih nular dan bikin resah banget itu daripada LGBT.
Jadi ingatlah, kita juga warna-warni sebagai pelangi, kok. Meski berbeda-beda, tapi tetap satu.
Salam cihuy!
